Puisi Untuk Sang Pengelana

Thursday, 26 November 2009
Ada sedih di setiap pengelanaanmu
Ada rindu menyesap ke dalam dada
Hati pun kemudian menjadi rapuh
Sebulir air mata hendak mengalir turun

Dalam setiap langkahmu, teriring doaku
Semoga engkau baik-baik saja
Sepanjang perjalanan, ingatlah aku Kekasih
Sebut namaku di setiap deru nafasmu

Dan kumenanti engkau disini
Di dalam ringkuk kerinduan yang tak bertepi
Dan ku tahu kau pasti kembali
Karna akulah rumah cintamu

Kelaut Aja

Monday, 9 November 2009
Apa sih patokan seseorang dalam mencari partner? Berdasarkan riset kecil-kecilan yang aku lakukan diam-diam tapi menghanyutkan, yang menjadi syarat nomor satu adalah calon gebetannya itu harus smart. Dan rata-rata pada mengaku kalo fisik alias tampang tidak menjadi masalah asalkan orangnya baik, perhatian dan penuh cinta. Idealis bangeettt.

Begitu pula dengan pengakuan my partner pada awal perkenalan kami. Sedikit bocoran, sebelum pertemuan pertama kami, aku dan partner memang sudah saling tertarik. Padahal belum liat gimana orangnya, hanya melalui sms dan suara di telpon, kami sudah saling menggilai satu sama lain. Tapi mari kita buktikan, apakah benar Az engga mempermasalahkan soal fisik.

Kasus 1..

Pernah sekali waktu aku dan Az lunch bareng. Sedang asik-asiknya makan, datanglah 2 orang perempuan yang kemudian duduk di belakangku. Acara makan tetap berlanjut, tapi tiba-tiba Az nyeletuk 'duh, jangan sampe deh kamu kayak cewe tadi', sambil memberi isyarat yang menunjuk pada salah satu perempuan yang duduk di belakangku. Aku melirik dan kulihat bokong perempuan itu yang emang rada bongsor. Jiahh sayangku, katanya ga peduli gimana pun fisikku. Kesimpulannya, my partner ga mau aku gendut.

Kasus 2..

Sore tadi, aku nemeni Az makan siomay kaki lima yang wuenak punya. Selain siomay rebus, juga ada siomay goreng yang rasanya maknyuss. Pelanggannya banyak, kalo mo beli harus ngantri. Tapi tenang aja, kalo berminat, bisa dipesan. Yah, cukup dulu iklan siomaynya. Lanjut ke kasus yang sebenarnya. setelah selesai makan dan bayar-bayar utang ke abang siomay atas bon-bon yang udah numpuk selama sebulan, datanglah seorang ciewe yang bodynya lumayan melebar. Iseng kuperhatikan bodynya. Bukan karna tertarik ya, tapi sekedar menebak berapa beratnya. Dan iseng juga kutanyakan pada Az, gimana kalo aku punya body kayak gitu. Dan sodara-sodara sekalian, jawaban Az sangat menghibur dan bijaksana ^wekk Azel^. Dia jawab 'kelaut aja!'.

Ngedate bawa anak? Be careful!

Sunday, 8 November 2009
Ibu mana sih yang ingin anaknya menjadi Lesbian, bahkan seorang L-mom sekalipun. Ah, kayaknya kalimat tadi terlalu ekstrim untuk tulisanku kali ini. Tapi kalo tidak dicegah dan ditindaklanjuti (serasa mengusut kasus korupsi nih), mungkin akan berakibat fatal sefatal-fatalnya, yakni anak kemudian ikut-ikutan menjadi L seperti ibunya. Duh ga jelas banget sih nih tulisannya :D.

Hhmmm begini ceritanya. Setelah lama ga jalan bareng dengan partner, sabtu kemaren akhirnya janjian tuk ketemuan. Dan kali ini aku harus membawa my little angel, karna baby sitternya ijin tuk keluar seharian. Karna partner tidak masalah, akhirnya jadilah kita ngedate bertiga. Persis seperti keluarga kecil.

Berhubung si kecil udah ga takut lagi dengan orang asing, dia pun cepat lengket dengan partner. Bahkan dia memanggil partner dengan sebutan mami. Aku tau, partnerku pasti senang sekali. Si kecil yang lucu, imut dan chubby pun semakin memukau partnerku. Pasti cintanya sudah sedikit berpaling dari ibunya kepada anaknya huehehe, iya kan Yang.

Well, aku sama sekali ga masalah si kecil manggil dengan sebutan mami pada partner, tapi dari hati kecilku sempet muncul ketakutan bahwa si kecil akan menyimpan memory tentang itu hingga dia besar nanti. Apalagi ternyata aku dan partner sempet curi kiss di depannya. Si kecil hanya memandang sambil tersenyum. Apa ya maksud senyummu, buah hatiku? Hhmmm kesalahan yang seharusnya ga perlu terjadi seandainya aku dan partner bisa menyimpan rasa rindu itu.

Sekarang hanya bisa berharap bahwa my little angel ga akan pernah mengingatnya. Dan ga akan pernah menanyakan maminya di depan hubby. Oh no, jangan sampe itu terjadi, bisa kiamat duniaku.

Partnerku yang adventurer

Entah sudah keberapa kalinya my partner Az meninggalkanku dalam perjalanannya ke daerah-daerah. Sebagian besar Jawa sudah pernah didatanginya, kemudian Sumatra dan pulau-pulau kecil dan terpencil. Pedalaman Kalimantan akan menjadi next destinationnya. Belum lagi hutan-hutan dan gunung-gunung yang dia daki. Bahkan kalo mengikuti rencananya minggu kemarin, seharusnya sabtu minggu ini dia berada di Baduy, tapi karna satu dan lain hal, rencananya dibatalkan. Dan weekend berikutnya, pun sudah ada planning yang menanti. Dan aku musti siap-siap menjanda, karna akhir tahun nanti Az akan melewatkan ujung tahun ini di puncak gunung. Lihat saja persiapannya, jadwal fitnessnya kembali teratur, agar badannya ga pegel dan ringan nanti pada saat mendaki, katanya. Hhmmm really adventurer ya partnerku ini.

Aku masih ingat dan masih sering mengenangnya, ketika dulu pertama kali aku mulai tertarik padanya. Jiwa petualang inilah yang hampir merupakan keseluruhan alasanku tertarik padanya. Mungkin karna aku sendiri punya jiwa seperti itu tapi ga pernah bisa mewujudkannya, jadi ketika bertemu dengan Az, aku seolah-olah menemukan cara tuk melampiaskannya. Ga perlu ditanya apa dan bagaimana maksud dan caranya, karna aku sendiri juga masih butuh penjelasan huehehehe.

Jadi, setelah kita resmi pacaran, maka aku pun sering ditinggal. Rata-rata kepergiannya hanya 3 hari 2 malam, brangkat jumat malam, balik ke Jakarta lagi pada senin subuh. Kadang perjalanan yang dia tempuh hanya 3 jam, tapi kadang bisa sampe 8 jam.
Masih mending kalo kita tetep bisa kontekan lewat hp, lah ini seringnya dia menghilang karna daerah yang didatanginya kebanyakan belum terjangkau oleh sinyal-sinyal. Jadi bisa dong bayangin gimana perasaanku, partner menghilang dan gau tau dimana posisinya, apakah dia baik-baik saja dan segala kabar tentang dia kadang membuatku begitu kawatir.

Dan lama-lama, entah kenapa aku pun mulai gerah dengan aktivitasnya ini. Merasa tersaingi bahkan sampai terabaikan. Jangan harap Az mau menuruti keinginanku tuk dia membatalkan niatnya. Adanya malah dia melancarkan seribu rayuan supaya aku mengijinkannya. Dan itu menyebabkan aku sedikit merasa tidak dihargai. Well, mungkin aku yang terlalu lebay. Seharusnya aku tak bersikap begitu. Seharusnya aku merasa senang karna dia bisa menyalurkan keinginannya yang telah mendarah daging. Ibarat perokok yang susah sekali lepas dari rokoknya, begitu pula dengan seorang traveller dan adventurer, ga akan gampang untuk melepaskan hobinya itu.

Tenang saja Sayang, aku masih bisa berusaha mengerti kok. Hanya saja muncul geli di hati. Hal yang dulu begitu membuat aku merasa suka dan jatuh cinta, sekarang malah menjadi momok dan sainganku.

Tentang cinta dan kesetiaanku

Saturday, 7 November 2009
Duduklah disini bersamaku, Sayang. Istirahatlah sejenak di pundakku. Mari kita bicarakan tentang kesetiaan yang kau pertanyakan. Juga tentang cinta yang sempat kau ragukan. Mari kujelaskan padamu tentang keberadaan mereka. Mari kutunjukkan padamu bahwa mereka ada bersama-sama dengan kita dan tinggal di tengah-tengah kita. Bahwa mereka tak gampang menghilang seperti embun di pagi hari, tak mudah pudar seperti riasan di wajah, juga tak mudah layu seperti bunga, apalagi jatuh melunglai layaknya dedaunan di musim gugur.

Bukan yang terakhir

Monday, 12 October 2009
Di kedai makanan
Duduk berdua
Sepiring berdua
Dua gelas teh
Diiringi lagu
Banyak bicara
Diselingi air mata

Kuharap ini bukan yang terakhir
Aku duduk di kedai itu
Bersamamu..

Betis Membawa Nikmat

Monday, 28 September 2009
Aku kembaliiiiii... Ih, sapa juga yang nungguin :p. But at least my honey absolutely wait for me lah. Sepuluh hari ninggalin Jakarta, rasanya kangggeeeennn banget. Apalagi ninggalin dan ditinggalin Yayang, rasanya jiwa ini hilang separuh. Hayo, yang ga percaya silakan bobo di sampingku. Dan hari ini adalah hari pertama kerja. Ketemu bos lagi deh, ketemu GM lagi deh, ketemu ma papersheets lagi deh.

Brangkat ke kantor pagi-pagi, karna jalanan masih sepi, jam 6.15 udah nyampe di bunderan HI. Dan untung mataku melek dari tidurku di sepanjang perjalanan tadi. Walau roh dan jiwaku tertidur, tapi otak ngalir trus. Begitu liat udah deket HI, langsung aku minta diturunkan di Tosari. Perjalanan pun aku teruskan dengan taxi. Kemana? Ke tempat Yayang.

Az ga nyangka kalo aku bakal datang, jadi begitu aku nyampe, dia malah sibuk beresin kamarnya yang brantakan. Dan aku ga disambut dengan ciuman. Hiks. Tapi ga pa-pa, masih banyak waktu kok. Kebetulan tadi aku mampir dulu beli nasi uduk, jadi kita makan dulu ya. Nasi uduk sebungkus dimakan berdua merupakan hal yang biasa bagi sepasang kekasih. Tapi pada saat Az sedang makan, aku sesekali mencumbunya dari belakang, begitu pula sebaliknya. Jadi ketika nasi uduk sebungkus dimakan berdua sambil kecup-kecupan leher dan pipi *ga brani lip kiss karna takut ma bau uduk campur jigong wakakaka*, maka acara makannya pun berubah jadi momen yang romantis. Cieehhh...

Nasi belum habis, kegiatan udah berganti menjadi saling pagut-pagutan bibir. Eits minum dulu dong biar kissingnya ga ada rasa uduk. Tapi sayang, hari ini Az lagi kedatangan tamu. Jadi ga lanjut deh adegan 21 taun ke atasnya. Kasian kan kalo aku enak sendiri sedang Az cuma nonton aku orgasm sambil nenggak liur. Akhirnya kita cuma ngobrol-ngobrol dan crita-crita, sambil nonton gosip pagi hari di teve. Az duduk di tepi ranjang, aku duduk di lantai. Ga sopan ya, tamu disuruh duduk di lantai. Tapi lumayan deh, dengan duduk di lantai, aku bisa mandangi betis Az yang konon kabarnya bisa menyihir para pangeran dari berbagai negeri. Seksooiiii... Psstt..kenapa aku suka liat foto Az *jangan tanya foto yang mana*, karna betisnya itu terpampang jelas di depan kamera hihihi.

Dan karna sang birahi digelitik terus oleh sang betis, foto-foto di kamera yang tadi diperlihatkan Az pun kulempar ke samping. Aku pun mulai memanjati tubuhnya dan menciuminya bertubi-tubi. Mengap-mengap deh lu, Az. Dan maafkan aku Sayang, pada akhirnya aku enak sendiri dengan kenikmatan yang meledak di dalam tubuhku, sedang kamu cuma bisa merekam eranganku di benakmu.

Inilah kisah Shanz dalam novel berjudul Betis Membawa Nikmat.